NAMA :
WANTY ANGGRAINI
NIM :
321200098
KELAS :
A PAGI
Tujuan : 1. Menjelaskan Pengertian Fluida Statis dan
Tekanan Hidrostatis
2. Mengetahui
Sifat-Sifat dalam Fluida
A. Fluida
Fluida
adalah zat yang dapat mengalir. Kata Fluida mencakup zat car, air dan gas
karena kedua zat ini dapat mengalir, sebaliknya batu dan benda-benda keras atau
seluruh zat padat tidak digolongkan kedalam fluida karena tidak bisa mengalir.
Susu, minyak pelumas, dan air merupakan contoh zat cair. dan Semua zat cair itu
dapat dikelompokan ke dalam fluida karena sifatnya yang dapat mengalir dari
satu tempat ke tempat yang lain. Selain zat cair, zat gas juga termasuk fluida.
Zat gas juga dapat mengalir dari satu satu tempat ke tempat lain. Hembusan
angin merupakan contoh udara yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Fluida merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap hari manusia menghirupnya, meminumnya, terapung atau tenggelam di
dalamnya. Setiap hari pesawat udara terbang melaluinya dan kapal laut mengapung
di atasnya. Demikian juga kapal selam dapat mengapung atau melayang di
dalamnya. Air yang diminum dan udara yang dihirup juga bersirkulasi di dalam
tubuh manusia setiap saat meskipun sering tidak disadari. Fluida ini dapat kita
bagi menjadi dua bagian yakni:
1.
FLUIDA
STATIS
Fluida
Statis adalah fluida yang berada dalam fase tidak bergerak (diam) atau fluida
dalam keadaan bergerak tetapi tak ada perbedaan kecepatan antar partikel fluida
tersebut atau bisa dikatakan bahwa partikel-partikel fluida tersebut bergerak
dengan kecepatan seragam sehingga tidak memiliki gaya geser. Contoh fenomena
fluida statis dapat dibagi menjadi statis sederhana dan tidak sederhana. Contoh
fluida yang diam secara sederhana adalah air di bak yang tidak dikenai gaya
oleh gaya apapun, seperti gaya angin, panas, dan lain-lain yang mengakibatkan
air tersebut bergerak. Contoh fluida statis yang tidak sederhana adalah air
sungai yang memiliki kecepatan seragam pada tiap partikel di berbagai lapisan
dari permukaan sampai dasar sungai. Cairan yang berada dalam bejana mengalami
gaya-gaya yang seimbang sehingga cairan itu tidak mengalir. Gaya dari sebelah
kiri diimbangi dengan gaya dari sebelah kanan, gaya dari atas ditahan dari
bawah. Cairan yang massanya M menekan dasar bejana dengan gaya sebesar Mg. Gaya
ini tersebar merata pada seluruh permukaan dasar bejana. Selama cairan itu
tidak mengalir (dalam keadaan statis), pada cairan tidak ada gaya geseran sehingga
hanya melakukan gaya ke bawah oleh akibat berat cairan dalam kolom tersebut.
Sifat- Sifat
Fluida Sifat fisis fluida dapat ditentukan dan dipahami lebih jelas saat fluida
berada dalam keadaan diam (statis). Sifat-sifat fisis fluida statis ini di
antaranya, massa jenis, tegangan permukaan, kapilaritas, dan viskositas.
1.
Massa Jenis
Pernahkah Anda membandingkan berat
antara kayu dan besi? Benarkah pernyataan bahwa besi lebih berat daripada kayu?
Pernyataan tersebut tentunya kurang tepat, karena segelondong kayu yang besar
jauh lebih berat daripada sebuah bola besi. Pernyataan yang tepat untuk
perbandingan antara kayu dan besi tersebut, yaitu besi lebih padat daripada
kayu. Anda tentu masih ingat, bahwa setiap benda memiliki kerapatan massa yang
berbeda-beda serta merupakan sifat alami dari benda tersebut. Dalam Fisika,
ukuran kepadatan (densitas) benda homogen disebut massa jenis, yaitu massa per
satuan volume. Jadi massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume
benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa
setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa
dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih
tinggi (misalnya besi) akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda
bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air).
Satuan SI massa jenis adalah
kilogram per meter kubik (kg·m-3) Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat.
Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu zat berapapun massanya
berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama.
Secara
matematis, massa jenis dituliskan sebagai berikut.
dengan: m = massa (kg atau g),
V = volume (m3 atau cm3), dan
ρ = massa jenis (kg/m3 atau g/cm3).
2.Tegangan
permukaan
Mari kita
amati sebatang jarum atau sebuah silet yang kita buat terapung di permukaan air
sebagai benda yang mengalami tegangan permukaan. Tegangan permukaan disebabkan
oleh interaksi molekul-molekul zat cair dipermukaan zat cair. Di bagian dalam
cairan sebuah molekul dikelilingi oleh molekul lain disekitarnya, tetapi di
permukaan cairan tidak ada molekul lain dibagian atas molekul cairan itu. Hal
ini menyebabkan timbulnya gaya pemulih yang menarik molekul apabila molekul itu
dinaikan menjauhi permukaan, oleh molekul yang ada di bagian bawah permukaan
cairan.
Sebaliknya
jika molekul di permukaan cairan ditekan, dalam hal ini diberi jarum atau
silet, molekul bagian bawah permukaan akan memberikan gaya pemulih yang arahnya
ke atas, sehingga gaya pemulih ke atas ini dapat menopang jarum atau silet
tetap di permukaan air tanpa tenggelam. Gaya ke atas untuk menopang jarum atau
silet agar tidak tenggelam merupakan perkalian koefisien tegangan permukaan
dengan dua kali panjang jarum. Panjang jarum disini adalah permukaan yang
bersentuhan dengan zat cair.
Jadi dapat
kita simpulkan bahwa pengertian dari tegangan permukaan adalah kecenderungan
permukaan zat cair untuk menegang, sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh
suatu lapisan elastis.
3.
Kapilaritas
Tegangan
permukaan ternyata juga mempunyai peranan pada fenomena menarik, yaitu
kapilaritas. Contoh peristiwa yang menunjukkan kapilaritas adalah minyak tanah,
yang dapat naik melalui sumbu kompor. Selain itu, dinding rumah kita pada musim
hujan dapat basah juga terjadi karena adanya gejala kapilaritas.
Untuk membahas
kapilaritas, kita perhatikan sebuah pipa kaca dengan diameter kecil (pipa
kapiler) yang ujungnya terbuka saat dimasukkan ke dalam bejana berisi air. Kita
dapat menyaksikan bahwa permukaan air dalam pipa akan naik. Lain hasilnya jika
kita mencelupkan pipa tersebut ke dalam bejana berisi air raksa. Permukaan air
raksa dalam tabung akan turun atau lebih rendah daripada permukaan air raksa
dalam bejana. Gejala inilah yang disebut dengan gejala kapilaritas. Pada
kejadian ini, pipa yang digunakan adalah pipa kapiler. Oleh karena itu, gejala
kapilaritas adalah gejala naik turunnya zat cair dalam pipa kapiler. Permukaan
zat cair yang berbentuk cekung atau cembung disebut meniskus. Permukaan air
pada dinding kaca yang berbentuk cekung disebut meniskus cekung, sedangkan
permukaan air raksa yang berbentuk cembung disebut meniskus cembung. Penyebab
dari gejala kapiler adalah adanya adhesi dan kohesi. Kohesi adalah gaya tarik
menarik antar molekul yang sama jenisnya. Gaya ini menyebabkan antara zat yang
satu dengan yang lain tidak dapat menempel karena molekulnya saling tolak
menolak. sedangkan adhesi adalah gaya tarik menarik antar molekul yang berbeda
jenisnya. Gaya ini menyebabkan antara zat yang satu dengan yang lain dapat
menempel dengan baik karena molekulnya saling tarik menarik atau merekat. Pada
gejala kapilaritas pada air, air dalam pipa kapiler naik karena adhesi antara
partikel air dengan kaca lebih besar daripada kohesi antar partikel airnya.
Sebaliknya, pada gejala kapilaritas air raksa, adhesi air raksa dengan kaca
lebih kecil daripada kohesi antar partikel air raksa. Oleh karena itu, sudut
kontak antara air raksa dengan dinding kaca akan lebih besar daripada sudut
kontak air dengan dinding kaca. Kenaikan atau penurunan zat cair pada pipa
kapiler disebabkan oleh adanya tegangan permukaan yang bekerja pada keliling
persentuhan zat cair dengan pipa.
Berikut ini
beberapa contoh yang menunjukkan gejala kapilaritas dalam kehidupan
sehari-hari:
a. Naiknya
minyak tanah melalui sumbu kompor sehingga kompor bisa dinyalakan.
b. Kain dan
kertas isap dapat menghisap cairan.
c. Air dari
akar dapat naik pada batang pohon melalui pembuluh kayu.
Selain
keuntungan, kapilaritas dapat menimbulkan beberapa masalah berikut ini :
Air hujan
merembes dari dinding luar, sehingga dinding dalam juga basah.
Air dari
dinding bawah rumah merembes naik melalui batu bata menuju ke atas sehingga
dinding rumah lembab.
4. Viskositas
Viskositas
merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik dengan tekanan
maupun tegangan. Pada masalah sehari-hari (dan hanya untuk fluida), viskositas
adalah "Ketebalan" atau "pergesekan internal". Oleh karena
itu, air yang "tipis", memiliki viskositas lebih rendah, sedangkan
madu yang "tebal", memiliki viskositas yang lebih tinggi.
Sederhananya, semakin rendah viskositas suatu fluida, semakin besar juga
pergerakan dari fluida tersebut. Viskositas menjelaskan ketahanan internal
fluida untuk mengalir dan mungkin dapat dipikirkan sebagai pengukuran dari
pergeseran fluida. Seluruh fluida (kecuali superfluida) memiliki ketahanan dari
tekanan dan oleh karena itu disebut kental, tetapi fluida yang tidak memiliki
ketahanan tekanan dan tegangan disebut fluide ideal.
B.Tekanan Hidrostatis
Pengertian tekanan akan mudah kita pahami setelah kita menjawab
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Mengapa pisau yang tajam lebih mudah
memotong dari pada pisau yang tumpul? Mengapa paku yang runcing lebih mudah
menancap kedalam benda dibandingkan paku yang kurang runcing? Pertanyaan diatas
sangat berhubungan dengan konsep tekanan.
Konsep tekanan identik dengan gaya, gaya selalu menyertai pengertian
tekanan. Tekanan yang besar dihasilkan dari gaya yang besar pula, sebaliknya
tekanan yang kecil dihasilkan dari gaya yang kecil. Dari pernyataan di atas
dapat dikatakan bahwa tekanan sebanding dengan gaya. Mari kita lihat orang
memukul paku sebagai contoh. Orang menancapkan paku dengan gaya yang besar
menghasilkan paku yang menancap lebih dalam dibandingkan dengan gaya yang
kecil.
Pengertian
tekanan tidak cukup sampai disini. Terdapat perbedaan hasil tancapan paku bila
paku runcing dan paku tumpul. Paku runcing menancap lebih dalam dari pada paku
yang tumpul walaupun dipukul dengan gaya yang sama besar. Dari sini terlihat
bahwa luas permukaan yang terkena gaya berpengaruh terhadap tekanan. Luas
permukaan yang sempit/kecil menghasilkan tekanan yang lebih besar daripada luas
permukaan yang lebar. Artinya tekanan berbanding terbalik dengan luas
permukaan.Penjelasan di atas memberikan bukti yang sangat nyata pada pengertian
tekanan. Jadi, tekanan dinyatakan sebagai gaya per satuan luas.
Pengertian tekanan ini digunakan secara luas dan lebih khusus lagi untuk
Fluida. Satuan untuk tekanan dapat diperoleh dari rumus di atas yaitu 1
Newton/m2 atau disebut dengan pascal. Jadi 1 N/m2=1 Pa
(pascal). Bila suatu cairan diberi tekanan dari luar, tekanan ini akan menekan
ke seluruh bagian cairan dengan sama prinsip ini dikenal sebagai hukum Pascal.
Gambar Tekanan
Hidrostatis
Masih ingatkah Anda definisi tekanan? Tekanan
adalah gaya yang bekerja tegak lurus pada suatu permukaan bidang dan dibagi
luas permukaan bidang tersebut. Secara matematis, persamaan tekanan dituliskan
sebagai berikut.
p= F/ A
dengan: F =
gaya (N),
A = luas
permukaan (m2), dan
p = tekanan
(N/m2 = Pascal).
Persamaan diatas
menyatakan bahwa tekanan p berbanding terbalik dengan luas permukaan bidang
tempat gaya bekerja. Jadi, untuk besar gaya yang sama, luas bidang yang kecil
akan mendapatkan tekanan yang lebih besar daripada luas bidang yang besar.
Tekanan Hidrostatis adalah tekanan yang terjadi di bawah air. Tekanan
hidrostatis disebabkan oleh fluida tak bergerak.
Tekanan
hidrostatis yang dialami oleh suatu titik di dalam fluida diakibatkan oleh gaya
berat fluida yang berada di atas titik tersebut. Jika besarnya tekanan
hidrostatis pada dasar tabung adalah p, menurut konsep tekanan, besarnya p
dapat dihitung dari perbandingan antara gaya berat fluida (F) dan luas
permukaan bejana (A).
p= F/A
Gaya berat
fluida merupakan perkalian antara massa fluida dengan percepatan gravitasi
Bumi, ditulis
p= massa x gravitasi bumi / A
Oleh karena
m = ρ V, persamaan tekanan oleh fluida dituliskan sebagai
p = ρVg / A
Volume
fluida di dalam bejana merupakan hasil perkalian antara luas permukaan bejana
(A) dan tinggi fluida dalam bejana (h). Oleh karena itu, persamaan tekanan di
dasar bejana akibat fluida setinggi h dapat dituliskan menjadi
p= ρ(Ah) g /
A = ρ h g
Jika tekanan
hidrostatis dilambangkan dengan ph, persamaannya dituliskan sebagai berikut.
Ph =
ρ g h
Ph =
tekanan hidrostatis (N/m2),
ρ =
massa jenis fluida (kg/m3),
g =
percepatan gravitasi (m/s2), dan
h =
kedalaman titik dari permukaan fluida (m).
Semakin tinggi dari permukaan Bumi, tekanan
udara akan semakin berkurang. Sebaliknya, semakin dalam Anda menyelam dari
permukaan laut atau danau, tekanan hidrostatis akan semakin bertambah. Mengapa
demikian? Hal tersebut disebabkan oleh gaya berat yang dihasilkan oleh udara
dan zat cair. Anda telah mengetahui bahwa lapisan udara akan semakin tipis
seiring bertambahnya ketinggian dari permukaan Bumi sehingga tekanan udara akan
berkurang jika ketinggian bertambah. Adapun untuk zat cair, massanya akan semakin
besar seiring dengan bertambahnya kedalaman. Oleh karena itu, tekanan
hidrostatis akan bertambah jika kedalaman bertambah.
Contoh
menghitung tekanan hidrostatis
Tabung setinggi 30 cm diisi penuh dengan
fluida. Tentukanlah tekanan hidrostatis pada dasar tabung, jika g = 10 m/s2 dan
tabung berisi:
a. air,
b. raksa, dan
c. gliserin.
Gunakan data
massa jenis pada Tabel
Jawab
Diketahui: h
= 30 cm dan g = 10 m/s2.
Ditanya : a.
Ph air
b. Ph
raksa
c. Ph
gliserin
Jawab :a.
Tekanan hidrostatis pada dasar tabung yang berisi air: Ph = ρ gh = (1.000 kg/m3)
(10 m/s2) (0,3 m) = 3.000 N/m2
b. Tekanan
hidrostatis pada dasar tabung yang berisi air raksa: Ph = ρ gh = (13.600 kg/m3)
(10 m/s2) (0,3 m) = 40.800 N/m2
c. Tekanan
hidrostatis pada dasar tabung yang berisi gliserin: Ph = ρ gh = (1.260 kg/m3)
(10 m/s2) (0,3 m) = 3.780 N/m2
Contoh Soal
Perhatikanlah
gambar bejana di bawah ini.
Jika
diketahui massa jenis minyak 0,8 g/cm3, massa jenis raksa 13,6 g/cm3,
dan massa jenis air 1 g/cm3, tentukanlah perbedaan tinggi permukaan
antara minyak dan air.
Kunci
Jawaban :
Diketahui: ρm
= 0,8 g/cm3, ρr = 13,6, dan ρair = 1 g/cm3.
ρaha
= ρmhm → ha = (ρm / ρa)
hm = (0,8 g/cm3) / (1 g/cm3) x 15 cm3
= 12 cm.
Jadi,
perbedaan tinggi permukaan minyak dan air = 15 cm – 12 cm = 3 cm.
DAFTAR PUSTAKA
Indrajit,
Dudi.2002.FISIKA.Bandung:Grafindo
Media Pratama
http://boycellyess.blogspot.com/2011/03/makalah-fluida.html
http://yusiseftiakanita.blogspot.com/2012/11/makalah-fluida.html








postingannya sudah bagus mbak ,, kalo bisa tambahkan contoh soal sama referensinya ya.. tq :)
BalasHapusterimakasih atas sarannya
Hapuspostingan y bagus.ijin copas y kak
BalasHapuspostingan y bagus.ijin copas y kak
BalasHapusselamat malam,hanya memberi saran materinya ditambah lagi
BalasHapuspostingannya bagus, tapi kalau tulisannya dirapikan pasti makin bagus... :D
BalasHapusselamat malam mba,postingannya sudah bagus,cuma mau kasih sedikit saran ni,materinya boleh kali y ditambah lagi :) terimakasih
BalasHapusmembantu pengetahuan dan wawasan
BalasHapusterimakasih :)
slmat sore mbak...wanty postingannya bagus
BalasHapusdah cocok nie jd guru hehehe
tambahkan referensinya ya mbakk
mksih :D
jgn lupa komen blog saya ya mbak anfieldsudiarti.blogspot.com materi pemuaian
terimakasih postingannya sangat membantu,, di tunggu ya postingan selanjutnya,, kalo bisa referensinya juga
BalasHapusPostingannya udah bagus mbak tinggal tambahkan referensinya jak. Terima kasih :)
BalasHapusPostingannya bagus. Ditunggu pembahasan lainnya
BalasHapuspostingan anda sudah bagus, di tunggu postingan selanjutnya.. jangan lupa comment blog saya ( Noviarosmindaseventeen.blogspot.com) " bahan ajar E-learning perubahan wujud zat" di tunggu
BalasHapus